Semua mahluk hidup di dunia bergantung pada waktu yang kita manfaatkan selama hidup, dimana kita bisa mempunyai suatu ruang di dalam dunia yang kita tinggali dan kita bisa menikmati segala keindahan, kesedihan dan segal macam emosi yang ada. Kesedihan dan penderitaan panjang hanya memberi kita sedikit ruang untuk hidup di dunia ini. Segala penderitaan yang disebabkan oleh manusia untuk manusia atau manusia untuk binatang, membuat mereka (mahluk hidup) merasa kehabisan waktu.
Dalam hal ini kejadian-kejadian tentang penganiayaan anak kecil yang dilakukan orang tua mereka, yang mengakibatkan atau menimbulkan efek bagi anak –anak yang merasa tidak berarti lagi dan selalu dalam kebimbangan serta kebingungan yang tidak bisa mereka atasi membuat mereka cenderung mengalami suatu gangguan dalam emosi yang tidak stabil serta depresi yang akut. Anak-anak dalam kategori ini cenderung merasa bahwa mereka tidak memiliki dunia. Anak dari hasil pengayaan ini tidak pernah bisa menikmati dunia layaknya seorang bocah pada usianya, mereka merasa selalu bersalah dalam melakukan tindakannya, anak ini sebenarnya selalu takut melakukan suatu hal tapi apa boleh dikata namanya juga anak-anak, mereka diberi Tuhan waktu yang seharusnya masih sangat panjang untuk mencari dunianya, maka kadang mereka nekat melakukan hal yang mereka inginkan walaupun resikonya berat, bagi orang-orang tua yang tidak memahami maka akan menjadi masalah besar yang membuat orang-orang tua ini melakukan penganiayaan terhadap anak mereka sendiri.
Penganiayaan-penganiayaan panjang yang dilakukan orang tua terhadap anak menimbulkan pengaruh psikologis yang berat pada anak yang sebenarnya tidak secara langsung sama dengan menghapus dunia dan waktu mereka.
Pembuktian-pembuktian bahwa golongan anak-anak teraniaya mengalami kematian dini yang bukan hanya ditimbulkan dari penderitaan mereka selama dianiaya tetapi mati karena perasaa mereka sendiri.
Semua mahluk hidup yang tidak mimiliki dunia maka dia juga tidak memiliki waktu.Orang yang lahir kedunia maka dia berhubungan dengan waktu dunia, orang yang mati maka dia berhubugan dengan waktu kematian.
Tuhan menurunkan manusia ke dunia diberi bekal bakat talenta dan perasaan untuk mempertimbangkan hal baik dan buruk, mempertimbangkan perbedaan dengan kata lain adalah akal. Selama hidup didunia yang baru bagi anak yang baru lahir, dia menyesuaikan degan kehidupan dunia yang asing bagi mereka, segala kesalahan tak luput dari bagian penyesuaian ini, hanya pemahaman dan pengertian serta akal yang sehat yang bisa mengerti, setelah perjalanan waktu penyesuaian atau proses belajar yang panjang sampai dengan dewasa maka adaptasi ini akan semakin utuh dan benar-benar menjadikan pengalaman-pengalaman semasa hidup sebaga pegangan untuk menjadi sosok manusia seutuhnya yang menemuka jati dirinya
Maka dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa :
1. Semua mahluk hidup itu memiliki dunianya masing-masing yang saling berhubungan tapi tidak bisa dicampur adukan, semua orang memiliki privacy sendiri-sendiri, begitu juga dengan anak-anak.
2.Orang yang punya masalah dengan dunianya maka orang ini mempunyai masalah dengan umurnya.( orang yang tidak memiliki dunia maka orang ini tidak memiliki umur )keberadaanya hanya seperti sebuah materi yang tidak benar-benar ada, hanya sebagai object yang tidak jelas.
3. Semua mahluk hidup yang tinggal tidak pada dunianya sendiri maka akan dijadikan object penderita berkepanjangan yang mengakibatkan kematian.
Contohnya pada hewan peliharaan yang hidup di dalam sangkar, kecenderungan mengalami kematian dini karena tidak benar-benar merasa memiliki dunia dan tentu saja waktu, hewan yang turun dari dunia hutan ke dunia kota, dia akan jadi bulan-bulanan pemburu. Seperti juga anak-anak jika dia ditempatkan ke dalam dunia orang dewasa kadang juga menjadi bulan-bulanan, dunia anak adalah dunia anak-anak yang berjalan sesuai dengan kurikulum anak-anak, segala pemahaman adalah sebatas pemahaman anak-anak, kita tidak bisa memaksakan pemaham kita pada mereka.
Biarlah mereka beradaptasi dengan dunianya yang baru…..toh akhirnya nanti anak-anak ini juga akan seperti kita, kita pernah merasakan menjadi anak-anak…..jangan lupa….Pengalaman adalah cermin untuk mencari jati diri maka biarkanlah mereka mencarinya sendiri. Pengalaman adalah guru yang terbaik bagi kita yang sedang beradaptasi dengan dunia.
Maka kasihanilah anak-anak yang tidak memiliki dunia karena biasanya mereka juga tidak memiliki umur.
Tolonglahlah kalau masih bisa diselamatkan, berikanlah dunianya kembali agar umurnya bisa melengkapi dunianya.
DIarsipkan di bawah: anak | Ditandai: agama, anak, animasi, biografi, blog, budaya, cerita, computer, download, dunia, ekonomi, gambar, gaya hidup, internet, kehidupan, kejahatan, kesehatan, pendidikan, penganiayaan, politik, psikologi, ptc, religi, search engine, software, sosial, umum





Hmmm…hmmmm…
Sebuah gagasan dan pesan moral yang patut disosialisasikan dalam kehidupan terutama dalam lingkungan keluarga saya. Sebab hal ini telah dilakukan oleh ORTU saya terhadap kami-kami sedari kecil. Kebebasan dalam artian KEMANDIRIAN dalam memerdekakan JATI DIRI yang harapannya agar anak-anaknya bisa menjadi DIRINYA SENDIRI. Dan, memang gak gampang menerapkan hal ini, karena sangat bergantung pada banyak hal. Situasi, Kondisi dan Lingkungan sangat mempengaruhi dalam perjalanannya. Hanya konsisten dalam PENGAWASAN MELEKAT bagi orang tua tanpa terlalu MENCAMPURI Gerak Hidup sang Anak dalam mengekspresikan DIRINYA dalam bersosialisasi terhadap lingkungan masyarakat, sekolah dan dunia bermainnya.
Siiippp….Salut dan Terima kasih.