Sedihnya jadi orang kecil, inilah yang dikatakan orang-orang dari pedesaan saat mengetahui akan adanya kenaikan harga BBM, apa yang bisa diperbuat mereka, mau protes sama siapa ? “ Saya rakyat kecil yang tidak tau apa-apa yang sehari-hari hanya menafkahi anak istri, cari duit untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi kalau BBM sampai naik harganya, apa-apa jadi mahal, terus kami harus bagaimana, ? “
Bagaimanakah sikap kita kalau kita dengar sendiri ada orang yang mengatakan hal seperti ini, kita tahu, ini pertanyaan yang sangat lugu, tapi ternyata kita pun tidak mampu menjawabnya. Apakah pemerintah juga bisa menjawabnya ?, sebuah jawaban yang bisa dimengerti oleh mereka-mereka yang lugu ini.
Jawaban-jawaban yang muter-muter dan berkesan intelek, bisakah membuat mereka mengerti ?
Rakyat kecil hanya bisa pasrah, menanti nasib mereka selanjutnya, suara mereka tidak akan sampai ke pemerintah, jangankan protes, kepanjangan dari BBM aja mereka tidak tahu, mereka hanya menyebutkan istlah minyak tanah. Pernah suatu waktu saya pergi ke desa di daerah yang bernama Soka Telogo Wulung kabupaten Kebumen, disana saya dan teman-teman berhenti di sebuah warung di depan sekolah dasar negeri, bertemu dengan siswa-siswa SDN tersebut, saya isenglah tanya pada mereka “ Siapa presiden Indonesia “ anak-anak SD ini tidak ada yang menjawab sama sekali, saya coba tanya sekali lagi, tetap aja mereka diam, dan ternyata memang anak-anak ini tidak mengenal siapa presiden mereka alias tidak ada yang tahu, pedagang warung nyeletuk “ pak SBY “ Kami tanya lagi “ SBY itu kepanjanganya apa pak ? “SBY ya SBY alias SUBIYONO, kok panjang-panjang, orang itu namanya…” Jawab bapak penunggu warung dengan suara khasnya. Kami semua tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai bapak penjual warung itu tersinggung sambil ngomel, setelah itu kami terus pergi, tanpa memberi tahu SBY itu apa ?, kami takut bapak itu akan tambah tersinggung lagi, karena kami cuma numpang istirahat disitu. Wah… kasihan juga nih pak SBY, selama ini jadi presiden namanya saja jarang dikenal.
Sedikit cuplikan humor dari desa :
Kalau saja di Indonesia harga BBM benar-benar tinggi, di desa-desa kemungkinan banyak terjadi banjir, karena orang desa tidak mampu beli minyak tanah sehingga mereka mencari kayu bakar bahkan nebang pohon sampai gundul, karena orang-orang desa itu kalau beli apa-apa mereka mengandalkan ternak, pertanian dan hutanya sendiri, apalagi sekarang sudah mulai menginjak musim kemarau, pasti mereka akan menebangi hutanya untuk kayu bakar buat mengganti minyak tanah, tapi kasihannya lagi nanti kalau mulai menginjak musim hujan, hutan sudah keburu gundul, banjir kan… “Pemerintah mau bantu “ apa…? Kapan…. ? Berapa…..? mau bantu nanamin pohon bareng…!!!
Memang semua ini kalau cuma diceritakan saja tidak cukup, tapi kalau benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri pasti tidak akan tega.” Seburuk-buruknya manusia pasti masih punya perasaan. Kami menghimbau sekali kepada pihak-pihak pemerintah tolonglah… turun kedesa dan saksikan sendiri dan tidak hanya dibayangkan saja, karena kenyataanya jauh lebih buruk daripada yang dibayangkan. Semoga pesan ini bisa mewakili seluruh rakyat di pedesaan Indonesia.” ( Inilah sedikit ungkapan dari salah seorang aparat desa yang mewakili rakyatnya ).
Jawaban –jawaban yang dilontarkan pemerintah di TV maupun media massa membuat rakyat kecil pedesaan malah menjadi bingung, mereka tidak mengerti dengan kata-kata pemerintah yang menjelaskannya berbelit-belit, dan dengan istilah-istilah yang susah dimengerti oleh rakyat desa, ini akan menambah bingung mereka lagi.
Orang-orang desa itu, jika menghadapi orang yang mereka anggap punya kedudukan di pemerintahan, mereka itu sangat menghormati, saking menghormatinya mereka sampai takut salah dan sopannya minta ampun…jangankan mengeluarkan pendapat, bertanya saja mereka takut walaupun mereka merasa tidak jelas.
Perbedaan pola pikr orang kampung dengan kita orang-orang dari kota, bahwa mereka cenderung memakai perasaan dalam kehidupan bermasyarakat. Perasaan mereka sangat halus walaupun bahasa mereka kadang kedengaran kasar, mereka itu cenderung pasrah saja. Apapun keputusan pemerintah, mereka patuhi saja walaupun dalam praktek kehidupan sehari-hari mereka ini sangatlah berat, mereka hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar bisa menjalani hidup seperti biasa, orang desa itu lebih ingat akan Tuhan setiap saat, daripada orang-orang kota yang punya kedudukan tinggi walaupun sudah pergi haji berkali-kali tetapi tidak pernah mencari Tuhan. Maka dari itu, tolonglah tunda pergi hajinya dulu… buat ngebantu dan memikirkan rakyat kecil di pedesaan, perjuangkan aspirasi mereka…lain kali kan bisa naik haji lagi… jangan jadikan uang sebagai sarana mencari Tuhan.
“ Sorga kok mau dibeli dengan uang…? “
“ Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( Al-An’am: 82 ).
Beginilah artikel ini kami muat, semoga menjadi masukan buat pemerintah dan kita semua, supaya lebih memperhatikan akan nasib rakyat kecil, nasib kami-kami ini yang serba susah..
Foam Studio mewakili rakyat kecil meminta pendapat para pembaca akan artikel di atas serta
tanggapan – tanggapan dari semua pembaca agar menjadi masukan buat Foam Studio 24 .
DIarsipkan di bawah: 1




